Paradok yang sama, terjadi pada
kasus Maulid Nabi. Hari ini masih terasa, Maulid Nabi dihajar di mimbar-mimbar,
melalui buku-buku ‘pengecut’ hingga dosa merayakan Maulid dilabeli lebih
berdosa dari berzina, membunuh, dan merampok. Namun, proyek besar untuk
membunuh Maulid nabi dengan dana menggunung 10 (sepuluh) tahun terakhir, hanya
melahirkan takdir lain. Tiba-tiba Maulid booming. Jauh lebih semarak, dari
peringatan Maulid yang telah ada.
Kasus serupa terjadi di Amerika Serikat.
Kampanye media Barat yang melabeli Islam sebagai teroris, ternyata berbuah
lain. Tiba-tiba, jumlah muslim Amerika melonjak. Mereka yang mampu berfikir
sederhana dan benar , akan melakukan konfirmasi atas sebuah isu. Islam adalah
agama teroris, benarkah? Adakah agama yang mengajarkan kebencian dan pembunuhan
massal? Kemudian, Al-Qur’an menjadi buku paling diburu di Amerika. Warga
amerika, kemudian aktif di internet, membaca tulisan-tulisan ulama-ulama islam,
dari Timur Tengah hingga Indonesia. Akhirnya, mereka memperoleh jawaban-jawaban
mandiri. Jawaban objektif, bukan percaya semata pada propaganda. Tidak benar,
Islam adalah Osama bin Ladin. Tidak benar, islam mengajarkan bom bunuh diri.
Komfirmasi itu memberikan keyakinan, bahwa Osama (dan para teroris lainnya)
telah memahami islam dengan keliru. Islam yang diabdikan untuk kepentingan
politik dan kekuasaan semata. Politik yang bermain-main fatwa dengan wahyu
Tuhan, memanipulasi untuk menghalalkan tumbal yang diinginkan.
Efek samping dari ‘kegilaan’ membaca
itu jelas, warga Amerika kemudian mengenal konsep tauhid, dan jatuh cinta
dengan Islam. Para muallaf ini ber-Islam dengan perenungan panjang dan
mendalam.
Kira-kira, demikianlah yang
terjadi dengan Maulid Nabi. Benarkah, Maulid Nabi media kesyirikan, sehingga
pelantun syair Maulid lebih menjijikan dari seorang pezina? Bagi yang mampu
berfikir sederhana dan benar, dia akan melakukan konfirmasi kepada puluhan ribu
pesantren di Nusantara yang melazimi Maulid. Masih ada, puluhan ribu kiai yang
menjadi juru bucara Maulid Nabi. Betapa dangkalnya manusia yang percaya pada
tuduhan sepihak dan lupa ajaran bertabayyun.
Alhamdulillah, itulah yang
dilakukan oleh berbagai harakan (gerakan) Islamiyah di kampus-kampus. Bukan
rahasia lagi, jika aktivis-aktivis dakwah kampus banyak termakan virus wahabi,
ikut-ikutan melabeli Maulid Nabi bid’ah, syirik, dan sesat. Namun itu dulu,
kini aktivis-aktivis kampus itu jauh lebih cerdas. Mereka telah rela
mengucapkan ahlan wa sahlan, memberikan ruang Maulid Nabi masuk masjid-masjid
kampus.
Rasanya, aneh jika ada aktivis
kampus yang masih memfinalkan Maulid nabi adalah adalab bid’ah dholalah dalam
hal agama. Dia akan tampak aneh (bodoh), saat partai politik terbesar aktivis
harakah Islamiyah (aktivis kampus) dengan lugas menyatakan dukungan terhadap
Maulid nabi, dan membuka ruang bagi kader-kader politiknya untuk merayakannya.
Partai harakah sendiri dengan percaya diri menyatakan berburu pemilih dari
warga NU (Pengamal Maulid). Jawabannya jelas, Maulid Nabi akan menjadi salah
satu media kampanye.
Kita semua wajib bersyukur.
Gerakan dakwah dengan basis Mahasiswa bergerak menunjukkan watak cerdasnya,
tidak terkungkung oleh sebuah doktrin keagamaan yang diabdikan membunuh paham
keagamaan lainnya. Aktivis mahasiswa Islam masih memiliki kemampuan menjaga
fitrah diri, untuk berfikir sederhana dan benar.
Dari sisi konten acara, perayaan
Maulid Nabi menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Yang biasa menggelar
peringatan Maulid Nabi sekedar pengajian ringan seperti yang diteladankan
Mantan Presiden Soeharto, kini bergerak dengan membaca Barzanji dan Ratib. Tak
terkecuali presiden SBY, yang penuh percaya diri merayakan Maulid Nabi bersama
Majelis Rasulullah yang diasuh Habib Munzir al-Musawa. Presiden pun khusuk
bersama lantunan Ratib-Ratib Maulid.
Memang, khusus untuk SBY, para
Pecinta Maulid harus membalas SBY dengan doa sehat dan panjang umur. Di tengah
upaya pembunuhan sistematis terhadap Maulid, Presiden SBY menghadangnya dengan
Majelis Dzikir SBY. Terlepas, dari kecurigaan kepentingan politik di dalamnya,
nama SBY adalah basyiron bagi maulid itu sendiri. Dia, salah satu pendekar
Maulid.
NU – Rumah Besar Pecinta Nabi
Memang, Maulid tidak boleh
dibubarkan. Maulid, salah satu budaya besar bangsa ini. Dia harus dirawat dan
dilindungi, seperti Batik yang kita bela mati-matian. Jika dia hilang, maka ada
bagian Indonesia yang hilang. Maka, yang bercita-cita membunuh Maulid, dia
pastilah orang-orang baru, yang mencita-citakan Indonesia baru, Indonesia yang
belum jelas wajahnya. Indonensia tanpa kata Maulid, tanpa kata milad, tanpa
kata Ulang Tahun? Mungkinkah?
Keterlaluan seorang ibu yang
menanti-nanti sebuah tanggal lahir putrinya, namun lupa menyebut nama Muhammad
saat 12 Rabiul Awwal tiba. Lebih keterlaluan seorang syaikh yang merayakan
Milad Yayasan miliknya dengan wah, namun lupa tentang kelahiran Nabi-nya.
“Dan tidak patut (pula) bagi
mereka yang lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri
Rasul”(At-Taubah, 120)
Maulid Nabi, hanyalah sebuah
pilihan bagi setiap kita, untuk tetap memelihara frasa ulang tahun, atau
menghapusnya. Tapi persoalannya, atas nama keindonesiaan, menghapusnya terasa
mustahil. Bukankah Kanjeng Nabi, tidak mengadakan perayaan peringatan atas
Piagam Madinah, pertanda proklamasi berdirinya Negara Madinah? Tidak pula peringatan
Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Fathul Makkah. Tidak ada Hari Pahlawan di saat
islam melahirkan para pahlawan yang paling ikhlas. Para Pahlawan yang
ditazkiyah oleh Al-Qur’an sendiri. Pahlawan-pahlawan yang digaransi masuk surga
oleh lisan Kanjeng Nabi.
Silahkan, bagi yang ingin menghapusnya tapi dengan dua catatan. Pertama, hormati kami yang ingin memelihara frasa ulang tahun (maulid) dalam diri dan kehidupan bumi . konsekuensinya, masjid-masjid milik umat tidak boleh tutup untuk kegiatan Maulid. Jika ditutup, masjid itu telah menjadi milik takmir semata. Umat boleh unjuk rasa, untuk menuntut haknya. Terlebih, jika takmir adalah orang-orang baru yang jasanya minimalis dalam pembangunan masjid. Masjid wajib mengakomodir setiap kepentingan umat. Masjid tidak boleh menjadi tanda proklamasi perpecahan, menggusur sebagian umat Islam yang lain.
Kedua, konsistensi dalam pilihan
itu. Yang jelas SBY sadar tidak dapat memilih pilihan penghapusan itu. Setiap
17 Agustus, dia harus berdiri membacakan ulang teks Proklamasi, meniru Bung
Karno. Memang, kanjeng nabi tidak pernah memberikan teladan dengan membaca
ulang Piagam Madinah setiap tahun. Demikian pula, 4 (empat) khalifah yang
mendapat petunjuk tidak menggelar apel dan meniruKanjeng Nabi membaca teks
Piagam Madinah. Tapi, Insya Allah kita masih akan mendapati berdesakan ayat dan
hadits sebagai dalil. Argumen dan sunnah qauliyah (ucapan) dan taqririyah
(rekomendasi) kanjeng nabi.
Setidaknya, kami hanya tidak
ingin kalah dengan Abu lahab (yang dikisahkan dalam Shahih bukhari) yang
gembira atas kelahiran keponakannya, Muhammad SAW, hingga rela membebaskan
budaknya, Tsuwaibah. Uniknya, atas kegembiraan ini, Abu Lahab mendapat syafaat
diringankan siksanya setiap hari senin. Kami hanya ingin mendapat bagian
syafaat dengan kegembiraan, bersholawat di hari lahir Kanjeng Nabi.
Akhirnya, Allah sendiri yang
menjaga Al-Qur,an dan (Insya Allah) menjaga Maulid dan makar sehebat apapun.
Kami tak ingin lupa bersholawat di hari paling istimewa. Bahkan, kami ingin
melawan lupa, tidak boleh terlewat bergembira seperti Abu Lahab. (Arif Armani)
Edisi 93 – Tahun IV – RABIUL
AWWAL 1434 H
JANUARI 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar